Feeds:
Posts
Comments

Dalam refleksinya mengenai internet, Dreyfus menggunakan kritik terhadap publik Kierkeegard sebagai suatu kerangka cara pandang awal.

Kierkegaard melihat ruang publik –sebagaimana diwakili oleh media– sebagai ruang yang menawarkan anonymity bebas risiko dan membangkitkan rasa ingin tahu yang malas, karena media cenderung untuk tidak menuntut tanggung jawab dan komitmen seseorang. Dalam ruang publik, ketika semuanya hanya diamati, dikritik, dan dikomentari tanpa akhir; lantas tidak ada yang namanya tindakan. Orang, dengan demikian hanya menjadi sekadar detached spectator yang kerjanya hanya mengamati saja. Inilah salah satu ciri pokok voyeurist modern.

Dalam cara pandang serupa, Dreyfus melihat bahwa ruang-ruang internet juga dapat menciptakan ruang eksistensi nihilistik karena internet adalah ruang simulasi bebas risiko. Mengapa disebut bebas risiko? Sebab:
1. setiap orang bebas mengirim info apa saja, ke mana dan siapa saja
2. setiap orang bisa mengirim pendapatnya sendiri, tanpa didukung keahlian dan keobyektifan. Ia cukup menjadi seorang komentator. Parahnya lagi, semua ini bisa dibuat secara anonim. Tanggung jawab dan komitmen tentu menjadi sangat minimal di sini.

Ekses yang dapat dimunculkan, terutama bila “kenyataan” yang terjadi di dunia maya ini telah merambah dan mengganggu eksistensi manusia di dunia real, dapat bermacam-macam. Konsep tentang diri, kehidupan berkomunitas, hak atas privasi dan kebebasan individu, sampai gaya dan cara hidup dapat berbalik dan mengubah eksistensi manusia.

Salah satu bahaya laten internet adalah kemunduran tanggung jawab dan komitmen pada manusia. Ketika manusia didorong untuk terus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, tanpa filter dan asal comot sana sini –terutama dengan ekses negatif hyperlink di mana orang akan cenderung menghentikan pencariannya ketika menemukan entry yang lebih menarik– maka manusia akan menjadi manusia komentator, detached spectator. Manusia komentator ini menjadi pengumpul informasi yang kerjanya hanya mengamati saja. Dan kegiatan ini tanpa tanggung jawab, karena pengamatan itu bertujuan pada pencarian informasi pada dirinya (bukan demi suatu pengetahuan yang solid) dan tidak ada yang namanya tindakan. Inilah kemerosotan tanggung jawab dan komitmen ala voyeurist modern. Hal yang sama juga mengindikasikan adanya kemerosotan nilai-nilai etika dalam seorang individu detached spectator ini.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan dalam budaya baru “anonymous spectator takes no risk” ini adalah: apakah sebagai seorang makhluk eksistensial, kita telah secara tidak sadar dikendalikan oleh cara berada internet ini? Apakah gejala-gejala kemerosotan sudah dirasakan terjadi pada kita? Semua ini adalah pertanyaan yang patut untuk direnungkan bersama.

Akhirnya, semoga dualisme hidup yang dijalani oleh manusia modern (dalam dunia real dan dunia maya) tidak menyebabkan makhluk eksistensial ini jatuh kepada suatu ketidakmampuan membedakan yang semu, yang remeh, dari yang penting dan substansial; yang pada gilirannya akan melemahkan kualitas seorang manusia sebagai pribadi eksistensial.

I NOT STUPID TOO

Seringkali, orang tua berpikir telah memahami anaknya, berdasarkan alasan “I-give-birth-to-you-so-I-know“. Benarkah demikian? Seorang anak sangat mudah terluka pada usia belasan tahun, yang tanpa diragukan lagi adalah periode krusial perkembangan seorang anak. Satu langkah keliru yang dibuat orang tua kepada anaknya, kendatipun kecil, bisa jadi menjadi sesal besar di kemudian hari. Seberapa besarkah kesadaran orang tua akan hal ini?

I not stupid too adalah sebuah film Singapura yang bertutur pada tema seputar peliknya hubungan antara anak dan orang tua dewasa ini, yang ditimbulkan akibat kurangnya komunikasi. Berlatar belakang masyarakat modern di Singapura, film ini menyajikan suatu hiburan komedi sekaligus pertanyaan yang mendasar tentang relasi anak dan orang tua.

Kisah film ini diceritakan dari sudut pandang seorang bocah berusia 9 tahun, Jerry. Diceritakan, Jerry dan kakaknya, Tom menghadapi tuntutan yang kuat dari sekolah tempat mereka menimba ilmu sekaligus dari kedua orang tua mereka yang cukup berada namun kurang memahami anak-anak mereka.

Jerry dan Tom sama-sama menghadapi masalah dalam keluarga mereka. Sang anak merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dalam keluarga, sementara kedua orang tua merasa bahwa anak-anak telah terlampau sering mengecewakan mereka. Perpecahan yang terjadi dalam keluarga ini menjadi semacam kerinduan tersendiri bagi Jerry untuk melihat keluarganya sungguh menjadi family , suatu komunitas untuk berbagi hidup.

Dalam permasalahan internal keluarga inilah, baik Jerry maupun Tom mengalami kesulitan mereka masing-masing dalam pergaulan dan kegiatan mereka di sekolah. Kesulitan yang mereka alami bahkan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan kriminal ringan, mengutil. Kejahatan anak-anak inilah yang akhirnya tanpa sadar telah menjadi blessing in disguise bagi keseluruhan anggota keluarga.

Salah satu adegan yang menyentuh, yang menjadi “kunci pembuka” hati yang beku oleh karena miskomunikasi dapat ditunjukkan dengan adegan antara Jerry dan kedua orang tuanya.

(Klik di sini untuk melihat adegan tersebut: touching part)

Sentilan kisah lain mengedepankan persahabatan Tom dengan Cheng Cai, yang kerapkali sikapnya tidak dipahami oleh para guru. “Anak nakal” Cheng Cai ini juga memiliki kesulitan berkomunikasi dengan sang ayah dengan gaya mendidik anaknya yang keras. Cheng Cai tidak tahu bahwa sang ayah begitu mencintainya. Hanya saja, sang ayah kesulitan untuk mengekspresikan tanda cinta tersebut karena semenjak kecil tidak pernah mengalami cinta dalam keluarga. Di akhir kisah, semuanya barulah terungkap.

Generation gap yang terjadi dalam film ini menjadi semakin menarik untuk diikuti dalam kaitannya dengan masyarakat modern dewasa ini, di mana komunikasi antara anak dan orang tua menjadi suatu keprihatinan yang perlu dipecahkan bersama.

Kebebasan

Kebebasan merupakan salah satu tema yang banyak dibahas kaum eksistensialis. Kebebasan dan eksistensi, bagi Sartre dan Kierkeegard adalah tidak dapat dipisahkan. Menurut Kierkegaard, ada (to exist) adalah bersinonim dengan menjadi bebas. Seseorang tidak pertama-tama exist lalu menjadi bebas. Menjadi manusia berarti sudah bebas. Maka bagi filsafat, masalahnya adalah mengklarifikasi perbedaan implisit dalam istilah eksistensi dan kebebasan.

Bagi Sartre, kebebasan dinyatakan dengan tindakan menegasi en-soi sehingga kebebasan pour-soi yang rapuh dapat masuk dalam eksistensi. Nikolai Berdyaev berbalik dari argumen tradisional untuk membentuk kebebasan kehendak. Kesulitan argumen tradisional sendiri adalah mencoba mengobyektivir kebebasan, dengan memperlakukannya sebagai obyek yang dapat ditipu, diselidiki, dibuktikan, atau ditolak dari luar. Namun, bagi kaum eksistensialis (sebagaimana Kant), kebebasan tidak untuk dibuktikan, tetapi lebih sebagai suatu prinsip dasar tindakan. Kebebasan sudah ada di sana, sebagai kondisi eksistensi kita (termasuk pikiran kita).

Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. Berdyaev melihat kebebasan sebagai misteri. Untuk menekankan prioritas kebebasan, Berdyaev menyatakan bahwa kebebasan mengungguli ada. Secara ontologis, kebebasan adalah baseless. Tindakan kebebasan adalah primordial dan irasional. Kebebasan adalah meontic, ia adalah bukan apa-apa daripada sesuatu, suatu kemungkinan daripada aktualitas. Ia tidak dapat dipahami dengan pikiran, tetapi hanya dapat diketahui lewat serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus, Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional primordial yang mendahului kebaikan dan kejahatan, dan yang menentukan pilihan di antara keduanya; maupun kebebasan yang final dan beralasan, kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran – yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal dan cara, sekaligus akhir dan tujuan.

Kebebasan, seperti halnya kecemasan, dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. Dalam dirinya, kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya, Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. Alasannya, jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi, maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Bila demikian, meski kebebasan itu berbahaya; demi martabat manusia, kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan resiko yang ada mesti diambil.

Keputusan dan Pilihan

Tindakan dan kebebasan manusia semakin ditunjukkan lewat keputusan, pilihan, dan komitmen. Manusia adalah keputusannya. Seperti halnya manusia “membuat” dirinya dalam tindakan, demikian pula dalam keputusan, ia mencerminkan kedalaman dirinya.

Keputusan adalah penolakan diri. Memutuskan satu kemungkinan berarti meninggalkan kemungkinan lain. Keputusan membawa existen berhadapan dengan dirinya sendiri, dalam kondisi penuh kecemasan. Karena penuh resiko, tidak heran bila manusia benci membuat keputusan.

Bagi Kierkegaard, keseriusan suatu keputusan mesti disadari sebagai inti paling manusiawi dari eksistensi. Keputusan tidak sekali jadi dan mesti diteguhkan terus-menerus dalam situasi hidup yang terus berubah, walau keputusan yang baru akan sama mencemaskan dan seriusnya dengan keputusan awal. Karena keputusan telah dibuat untuk kita, maka yang diharapkan adalah kita menyesuaikan diri dan memperkuat keputusan itu. Hal yang pertama-tama mesti dilakukan adalah memilih, menguji kekuatan keputusan yang telah terkikis sehingga menjadi keputusan berkualitas yang adalah representasi tindakan personal.

Akhir kata, tindakan janganlah didefinisikan terlalu sempit sehingga pandangan kaum eksistensialis tentang aksi dapat digariskan kembali. Bahwa dalam tindakan-lah, termasuk di dalamnya adalah pikiran, kebebasan, dan keputusan; manusia adalah benar-benar dirinya seutuhnya.

(berdasarkan pembacaan buku Existentialism karya John Macquarrie, terbitan New York: Penguin Books, 1972)

About Jazz

“Jazz is surprising, unpredictable, and full of improvisation.” Maybe, this statement is the simpliest way to review the characteristics of jazz and a way to differ jazz from other “style of music”. Jazz is something different. Where are the differences? First, we can see them from their performers themselves. Because the power and the main characteristic of jazz are located in its improvisation, we can see that performers of jazz improvise within the conventions of their chosen style. Typically, the improvisation is accompanied by the repeated chord progression of a popular song or an original composition. Although exceptions occur in some styles, most jazz is based on the principle that an infinite number of melodies can fit the chord progressions of any song. This style is totally different with the performers of blues, for instance, whom make no improvisation at all. Then, we can also see the differences from the use of written scores. Written scores, if present, are often used merely as guides, providing structure within which improvisation occurs. Of course, it is different from its of classical music. Jazz musicians do not memorize the scores, but they have to be creating or trying to, anticipating each other, transforming their feelings into mucic, and taking chances every second. Jazz is characterized by syncopated rhythms and improvisation. That is why Whitney Balliett, jazz critic for The New Yorker magazine, has called jazz as “the sound of surprises.” Really, jazz is full of element of surprises!

Older Posts »