Taxi: ketika “maaf” sangat sulit diungkapkan

“Ketika ungkapan terima kasih dan maaf seakan makin sulit didapatkan”

Untuk seorang sahabat, teman seperjalanan

Dua buah mobil, sebuah taksi dan sebuah mobil mewah, sama-sama berjalan di sisi kanan sebuah jalan lurus. Seratus meter di depan, “u-turn” sudah menanti. Sopir taksi mengira bahwa mobil merah di belakangnya juga akan ikut berbelok ke kanan. Setelah memberi tanda akan berbelok, sopir taksi menurunkan laju kecepatan taksinya dan siap untuk berbelok ke kanan. Brakkkkk…!!! Terdengar suara hantaman keras dari belakang. Rupanya, mobil mewah itu menghantam bagian belakang taksi dengan keras. Kedua kendaraan sama-sama penyok di beberapa bagian.

Adegan selanjutnya bisa ditebak. Kedua pengemudi keluar untuk memeriksa kerusakan kendaraannya dan merekonstruksi kejadian tersebut. Pengemudi yang ternyata juga pemilik mobil mewah, tanpa basa-basi, langsung menyimpulkan bahwa pihak taksi-lah yang keliru. Tidak cukup sampai di situ, dia juga mengancam akan melaporkan sopir taksi itu kepada pihak managemen agar memecat sopir tersebut. Dengan tenang, sang sopir menjelaskan posisinya. Dia merasa yakin bahwa dirinya benar. Ketika sebuah mobil berada di jalur kanan, seharusnya dia tidak tiba-tiba menyerong masuk memotong jalan. Argumen itu langsung ditanggapi dengan sinis oleh pemilik mobil mewah. Dia berkata, “SIM-nya pasti hasil nembak kan?” Jawab Bapak sopir taksi, “Saya ikut dan mengambil semua tes yang ada. Saya tidak nembak karena tidak memiliki cukup uang seperti Bapak. Saya tahu detail peraturan yang ada, Pak.” Ouch…Rupanya jawaban Bapak sopir taksi sangat menohok sang pemilik mobil mewah yang tiba-tiba mulai menyadari bahwa dia keliru karena dua hal. Pertama, benar bahwa SIM-nya memang hasil tembakan. “Toh uang bisa nyuap polisi. Apa artinya uang segitu?”, pikirnya. Kedua, dalam kejadian hari itu; sejak awal dia memang berada di jalur kanan dan tiba-tiba memotong ke kiri untuk masuk ke sebuah mall. (Entah apa yang akan dia lakukan di sana: sekadar bergaya dengan penampilannya yang parlente atau menghambur-hamburkan uang yang didapatkannya dari hasil keringat ayahnya. Maklum, perusahaan yang dia miliki sebenarnya adalah warisan dari almarhum ayahnya.) Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekeliruannya. Dia tetap kukuh bahwa sopir taksi-lah pihak yang keliru dan tetap mengancam akan melaporkan kepada pihak managemen. Tapi dengan enteng, si sopir taksi menjawab, “Silakan saja kalau mau melapor, pak. Saya tidak takut dipecat. Paling-paling saya hanya kembali miskin seperti dulu. Saya sudah pernah hidup miskin. Saya tidak takut hidup miskin lagi. Tapi satu hal yang sekarang saya butuhkan hanyalah maaf dan pengakuan akan kesalahan yang Bapak buat. Saya tidak meminta lebih.”

Rupanya, perdebatan sengit itu memancing perhatian petugas valet parking dari mall yang hendak dituju sang pemilik mobil mewah. Merasa dirinya akan dibela, pemilik mobil mewah yang arogan itu mengadukan kasusnya pada petugas. Reaksi petugas setali tiga uang dengan pemilik mobil mewah itu: menyalahkan sopir taksi. Sopir taksi dengan suara lirih berkata, “Tentu saja Bapak ini Anda bela karena dia customer Anda.”

Kerap merasa diri Anda sebagai Bapak sopir taksi? Kalau iya, jangan pernah merasa lelah untuk menyuarakan apa yang Anda anggap sebagai kebenaran. Namun, kalau Anda berada dalam posisi sosok arogan pemilik mobil mewah yang enggan mengakui kesalahan dan karena gengsi tidak mau mengatakan “maaf”, atau berada dalam posisi petugas valet parking yang hanya bisa menjilat dan menguntungkan sosok yang memberi Anda keuntungan (dapat berupa kenyamanan, kedekatan relasi, uang, dst); sebaiknya Anda mulai merenungkan nilai-nilai apa yang hendak Anda perjuangkan untuk hidup Anda.

Namun di atas itu semua, masing-masing dari kita toh dapat menjadi siapa saja. Dalam sebuah kesempatan, kita bisa menjadi sopir taksi yang mencari kebenaran; tapi di lain kesempatan menjadi sosok arogan dan penjilat.

NB: kisah ini adalah kisah yang benar-benar terjadi, dengan sedikit penyesuaian

Surrogates: How do you save humanity when the only thing that’s real is you?

Film arahan Jonathan Mostow ini mengisahkan suatu periode di masa depan ketika para robot (surrogates) bertugas menggantikan peran dan pekerjaan setiap orang di dunia luar. Film ber-genre sci-fi ini menampilkan para robot –yang baik secara fisik mirip dengan tuannya maupun perwujudan karakter idaman pemilik robot– dikendalikan oleh pusat kontrol di rumah pemiliknya masing-masing. Dengan demikian, setiap manusia tidak perlu keluar rumah untuk melakukan pekerjaan mereka. Semuanya sudah ditangani oleh para robot pengganti.

Dalam film ini, Bruce Willis berperan sebagai seorang agen FBI yang harus kembali bertugas ke dunia luar setalah bertahun-tahun berdiam diri di rumah. Bruce memutuskan melakukannya tanpa robot pengganti karena ia mencium konspirasi dalam pemakaian para robot pengganti yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Menarik untuk mengamati secara lebih mendalam perihal film ini. Pertanyaan “Human perfection. What could go wrong?” adalah salah satu yang bisa dikemukakan. Kesempurnaan nalar manusia telah menghasilkan teknologi luar biasa dalam rupa para robot pengganti. Mungkinkah kesempurnaan itu dapat keliru?

Kala manusia tidak lagi mempergunakan tubuh sebagaimana fungsinya dengan dalih “efisiensi dan efektivitas”, mungkinkah hal itu menggambarkan kesempurnaan manusia? Atau malahan bermakna sebaliknya?

Dewasa ini, juga semakin mudah dijumpai aneka produk teknologi yang memudahkan kinerja manusia. Di satu sisi, manusia semakin dipermudah dan diringankan dalam melakukan pekerjaannya. Namun, di sisi lain manusia menjadi semakin tergantung dengan teknologi secara khusus, dan produk kreativitas dan nalar manusia secara umum. Apa indikasinya? Amati saja realitas sekitar. Akan semakin ditemukan seseorang atau sekelompok manusia yang semakin susah untuk lepas dari Blackberry, handphone, ipod, notebook, atau gadget lain yang ia pakai. Atau sekelompok orang yang tidak bisa makan makanan lain selain yang disediakan oleh Bunda McD, Mama Wendy’s, atau Oma Starbucks. Kelompok ini akan lebih memilih puasa daripada menyantap makanan variasi lain yang disediakan oleh Mbok Berek, Mbak Wedang Jahe dan Sekoteng, atau Mas Pecel. Masih ada kelompok lain yang cenderung memilih baju berlabel (kendatipun abal-abal) Quiksilver, Nike, Gucci, Zara, Pierre Cardin, Crocodile, dan teman-teman seprofesinya dengan begitu fanatik sampai-sampai merasa alergi untuk mengenakan produk tak berlabel.

Fenomena yang terjadi, dengan demikian adalah fenomena manusia yang menjadi sangat tergantung dengan produknya. Cukup sampai di situ saja? Kalau mengikuti logika film Surrogates, masih dapat disebutkan kecenderungan manusia untuk semakin mudah “mengistirahatkan” tubuh; misalnya ketika malas jalan kaki keluar kompleks, tersedia sepeda motor. Titik ekstrem akhirnya terjadi seperti gambaran film ini: kalau ada robot pengganti, untuk apa memakai tubuh sendiri?

Maka, dari pertanyaan “Human perfection. What could go wrong?”, yang menjadi ironi adalah manusia telah menjadi obyek bagi produknya sendiri. Siapakah subyek dan siapakah obyek? Menjadi obyek dari produknya berarti manusia menjadi unreal terhadap dirinya sendiri. Kiranya jawaban atas pertanyaan ini bisa ditelurusi dalam pengalaman keseharian di dunia aktual.

Dengan mengubah tagline film Surrogates, maka kini pertanyaannya adalah: How do you save yourself when the thing that’s unreal is you?

Jawaban Anda?

2012

Never before has a date in history been so significant to so many cultures, so many religions, scientists, and governments. ’2012′ is an epic adventure about a global cataclysm that brings an end to the world and tells of the heroic struggle of the survivors.” (’2012′)

Kisah Nuh dengan bahteranya yang termasyur itu kembali terkenang dalam film ‘2012’ besutan Rolland Emmerich ini. Memang dari segi alur cerita, terkesan tidak ada yang jauh berbeda dengan film-film sejenis yang menceritakan tentang bencana besar di Ibu Bumi, semisal The Day After Tomorrow (2004). Kendati pun demikian, tidak ada salahnya mengambil sedikit refleksi dari film ini.

Kisah film dibuka dengan serangkaian adegan di sebuah lokasi bekas penambangan di India. Di sana, Dr. Satnam memberitahukan hasil penelitiannya terhadap sahabatnya dari Amerika, Dr. Adrian Helmsley tentang kenaikan suhu lempeng Bumi akibat ledakan besar di permukaan matahari. Dampak ledakan ini akan mengakibatkan patahan pada kerak Bumi. Sudah dapat diduga, gempa besar akan terjadi; kutub-kutub Bumi akan bergeser porosnya.  Temuan Dr. Satnam itu akhirnya dilaporkan ke Gedung Putih, bahwa “kiamat” akan terjadi. Singkat cerita, pertemuan negara-negara anggota G8 yang dilaksanakan membahas rencana besar penyelamatan ras manusia dari kehancuran. China ditunjuk sebagai lokasi pembuatan “bendungan” raksasa, yang sebenarnya adalah dermaga untuk bahtera-bahtera raksasa “Nuh”.

Ada dua hal setidaknya yang menarik dari film ini –selain efek visualnya yang memang dahsyat, tentu saja. Pertama, betapa pun besar upaya manusia untuk menyiasati alam, pada akhirnya alam jualah yang akan menang. Selama ini, manusia cenderung berlaku angkuh terhadap alam. Dengan semena-mena, alam dieksploitasi dan dibiarkan rusak. Ketika tiba waktunya di mana alam “mengerang”, barulah manusia merasakan sesal karena bertindak tidak sepantasnya terhadap alam. Menarik untuk mencermati konteks film ini berhadapan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di seluruh dunia, isu-isu tentang global warming, sekaligus upaya counter dari segelintir manusia yang masih peduli terhadap alam. Dunia sendiri telah merasakan rintihan alam terhadap eksploitasi dirinya. Salah satu yang dapat disebut barangkali adalah betapa efek tsunami di kawasan Asia Tenggara telah meluluhlantakkan sebagian Bumi. Bayangkan saja seandainya tsunami itu melanda seluruh Bumi. Betapa dahsyat kerusakan yang akan dihasilkan. Sekiranya sulit membayangkan, adegan dalam ‘2012’ barangkali dapat membantu mengkontemplasikannya:

“Gempa dan tsunami setinggi ribuan meter melanda seluruh dunia. Air membanjiri seluruh daratan. Bumi bergetar hebat. Daratan hancur total karena seluruh daratan bergeser ribuan mil dari lokasi semula. Kutub utara dan selatan tidak lagi menempati posisinya semula. Bumi sungguh telah dijungkir balikkan.” Dalam salah satu adegan, bahkan USS John F. Kennedy terpental dari lautan dan menghantam Washington D.C. Sungguh dahsyat amukan alam ini. Manusia, dengan demikian sepatutnya harus mulai berpikir bahwa alam bisa bertindak sejauh itu bila manusia cenderung terus menerus melukai alam dan tidak lagi ramah terhadapnya. Harmoni harus ditumbuhkan dalam relasi manusia dan alam.

Kedua, pesan tentang kemanusiaan yang sungguh menyentuh. “Manusia tidak lagi human ketika dia berani mengorbankan nyawa sesamanya. Saat manusia berhenti memperjuangkan nasib sesamanya yang tengah menderita demi keselamatan diri sendiri, itulah saat dia kehilangan sisi kemanusiaannya.” Satu adegan yang begitu menyentuh adalah ketika Dr. Adrian mencoba meyakinkan para pemimpin dunia untuk mengijinkan orang-orang masuk ke dalam bahtera-bahtera raksasa “Nuh” –hanya yang membayar seat yang dapat masuk ke dalam bahtera; para pekerja yang membangun bahtera pun tidak dapat masuk. Di sinilah, sense of humanity yang akhirnya menang. Para pemimpin Negara minus PM Italia (memilih untuk berdoa di rumah dan menolak evakuasi) dan Presiden US (Presiden Thomas memilih tinggal bersama rakyat; “The captain is sinking with his ship”) tergerak oleh ungkapan kemanusiaan Dr. Adrian dan mengijinkan orang-orang itu masuk ke dalam bahtera, beberapa saat sebelum luapan air hasil tsunami menghujami bahtera-bahtera tersebut. Pesan kemanusiaan universal  ini terasa cukup kuat menjelang akhir film. Ada refleksi bahwa seluruh umat manusia adalah saudara: seharusnya tak ada lagi sekat-sekat sosial budaya yang mengungkung manusia ketika sesamanya menderita. Kita wajib saling menolong tanpa memandang perbedaan karena memang kemanusiaan adalah hakikat manusia. Ketika ia berlaku egois demi keselamatan diri sendiri, saat itulah dia kehilangan kemanusiaannya. Ia tidak lagi human.

On the Internet, a reflection based on Hubert Lederer Dreyfus (professor of philosophy at the University of California, Berkeley)

Dalam refleksinya mengenai internet, Dreyfus menggunakan kritik terhadap publik Kierkeegard sebagai suatu kerangka cara pandang awal.

Kierkegaard melihat ruang publik –sebagaimana diwakili oleh media– sebagai ruang yang menawarkan anonymity bebas risiko dan membangkitkan rasa ingin tahu yang malas, karena media cenderung untuk tidak menuntut tanggung jawab dan komitmen seseorang. Dalam ruang publik, ketika semuanya hanya diamati, dikritik, dan dikomentari tanpa akhir; lantas tidak ada yang namanya tindakan. Orang, dengan demikian hanya menjadi sekadar detached spectator yang kerjanya hanya mengamati saja. Inilah salah satu ciri pokok voyeurist modern.

Dalam cara pandang serupa, Dreyfus melihat bahwa ruang-ruang internet juga dapat menciptakan ruang eksistensi nihilistik karena internet adalah ruang simulasi bebas risiko. Mengapa disebut bebas risiko? Sebab:
1. setiap orang bebas mengirim info apa saja, ke mana dan siapa saja
2. setiap orang bisa mengirim pendapatnya sendiri, tanpa didukung keahlian dan keobyektifan. Ia cukup menjadi seorang komentator. Parahnya lagi, semua ini bisa dibuat secara anonim. Tanggung jawab dan komitmen tentu menjadi sangat minimal di sini.

Ekses yang dapat dimunculkan, terutama bila “kenyataan” yang terjadi di dunia maya ini telah merambah dan mengganggu eksistensi manusia di dunia real, dapat bermacam-macam. Konsep tentang diri, kehidupan berkomunitas, hak atas privasi dan kebebasan individu, sampai gaya dan cara hidup dapat berbalik dan mengubah eksistensi manusia.

Salah satu bahaya laten internet adalah kemunduran tanggung jawab dan komitmen pada manusia. Ketika manusia didorong untuk terus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, tanpa filter dan asal comot sana sini –terutama dengan ekses negatif hyperlink di mana orang akan cenderung menghentikan pencariannya ketika menemukan entry yang lebih menarik– maka manusia akan menjadi manusia komentator, detached spectator. Manusia komentator ini menjadi pengumpul informasi yang kerjanya hanya mengamati saja. Dan kegiatan ini tanpa tanggung jawab, karena pengamatan itu bertujuan pada pencarian informasi pada dirinya (bukan demi suatu pengetahuan yang solid) dan tidak ada yang namanya tindakan. Inilah kemerosotan tanggung jawab dan komitmen ala voyeurist modern. Hal yang sama juga mengindikasikan adanya kemerosotan nilai-nilai etika dalam seorang individu detached spectator ini.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan dalam budaya baru “anonymous spectator takes no risk” ini adalah: apakah sebagai seorang makhluk eksistensial, kita telah secara tidak sadar dikendalikan oleh cara berada internet ini? Apakah gejala-gejala kemerosotan sudah dirasakan terjadi pada kita? Semua ini adalah pertanyaan yang patut untuk direnungkan bersama.

Akhirnya, semoga dualisme hidup yang dijalani oleh manusia modern (dalam dunia real dan dunia maya) tidak menyebabkan makhluk eksistensial ini jatuh kepada suatu ketidakmampuan membedakan yang semu, yang remeh, dari yang penting dan substansial; yang pada gilirannya akan melemahkan kualitas seorang manusia sebagai pribadi eksistensial.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.