Taxi: ketika “maaf” sangat sulit diungkapkan
September 23, 2010 Leave a Comment
“Ketika ungkapan terima kasih dan maaf seakan makin sulit didapatkan”
Untuk seorang sahabat, teman seperjalanan
Dua buah mobil, sebuah taksi dan sebuah mobil mewah, sama-sama berjalan di sisi kanan sebuah jalan lurus. Seratus meter di depan, “u-turn” sudah menanti. Sopir taksi mengira bahwa mobil merah di belakangnya juga akan ikut berbelok ke kanan. Setelah memberi tanda akan berbelok, sopir taksi menurunkan laju kecepatan taksinya dan siap untuk berbelok ke kanan. Brakkkkk…!!! Terdengar suara hantaman keras dari belakang. Rupanya, mobil mewah itu menghantam bagian belakang taksi dengan keras. Kedua kendaraan sama-sama penyok di beberapa bagian.
Adegan selanjutnya bisa ditebak. Kedua pengemudi keluar untuk memeriksa kerusakan kendaraannya dan merekonstruksi kejadian tersebut. Pengemudi yang ternyata juga pemilik mobil mewah, tanpa basa-basi, langsung menyimpulkan bahwa pihak taksi-lah yang keliru. Tidak cukup sampai di situ, dia juga mengancam akan melaporkan sopir taksi itu kepada pihak managemen agar memecat sopir tersebut. Dengan tenang, sang sopir menjelaskan posisinya. Dia merasa yakin bahwa dirinya benar. Ketika sebuah mobil berada di jalur kanan, seharusnya dia tidak tiba-tiba menyerong masuk memotong jalan. Argumen itu langsung ditanggapi dengan sinis oleh pemilik mobil mewah. Dia berkata, “SIM-nya pasti hasil nembak kan?” Jawab Bapak sopir taksi, “Saya ikut dan mengambil semua tes yang ada. Saya tidak nembak karena tidak memiliki cukup uang seperti Bapak. Saya tahu detail peraturan yang ada, Pak.” Ouch…Rupanya jawaban Bapak sopir taksi sangat menohok sang pemilik mobil mewah yang tiba-tiba mulai menyadari bahwa dia keliru karena dua hal. Pertama, benar bahwa SIM-nya memang hasil tembakan. “Toh uang bisa nyuap polisi. Apa artinya uang segitu?”, pikirnya. Kedua, dalam kejadian hari itu; sejak awal dia memang berada di jalur kanan dan tiba-tiba memotong ke kiri untuk masuk ke sebuah mall. (Entah apa yang akan dia lakukan di sana: sekadar bergaya dengan penampilannya yang parlente atau menghambur-hamburkan uang yang didapatkannya dari hasil keringat ayahnya. Maklum, perusahaan yang dia miliki sebenarnya adalah warisan dari almarhum ayahnya.) Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekeliruannya. Dia tetap kukuh bahwa sopir taksi-lah pihak yang keliru dan tetap mengancam akan melaporkan kepada pihak managemen. Tapi dengan enteng, si sopir taksi menjawab, “Silakan saja kalau mau melapor, pak. Saya tidak takut dipecat. Paling-paling saya hanya kembali miskin seperti dulu. Saya sudah pernah hidup miskin. Saya tidak takut hidup miskin lagi. Tapi satu hal yang sekarang saya butuhkan hanyalah maaf dan pengakuan akan kesalahan yang Bapak buat. Saya tidak meminta lebih.”
Rupanya, perdebatan sengit itu memancing perhatian petugas valet parking dari mall yang hendak dituju sang pemilik mobil mewah. Merasa dirinya akan dibela, pemilik mobil mewah yang arogan itu mengadukan kasusnya pada petugas. Reaksi petugas setali tiga uang dengan pemilik mobil mewah itu: menyalahkan sopir taksi. Sopir taksi dengan suara lirih berkata, “Tentu saja Bapak ini Anda bela karena dia customer Anda.”
…
Kerap merasa diri Anda sebagai Bapak sopir taksi? Kalau iya, jangan pernah merasa lelah untuk menyuarakan apa yang Anda anggap sebagai kebenaran. Namun, kalau Anda berada dalam posisi sosok arogan pemilik mobil mewah yang enggan mengakui kesalahan dan karena gengsi tidak mau mengatakan “maaf”, atau berada dalam posisi petugas valet parking yang hanya bisa menjilat dan menguntungkan sosok yang memberi Anda keuntungan (dapat berupa kenyamanan, kedekatan relasi, uang, dst); sebaiknya Anda mulai merenungkan nilai-nilai apa yang hendak Anda perjuangkan untuk hidup Anda.
Namun di atas itu semua, masing-masing dari kita toh dapat menjadi siapa saja. Dalam sebuah kesempatan, kita bisa menjadi sopir taksi yang mencari kebenaran; tapi di lain kesempatan menjadi sosok arogan dan penjilat.
NB: kisah ini adalah kisah yang benar-benar terjadi, dengan sedikit penyesuaian
Film arahan Jonathan Mostow ini mengisahkan suatu periode di masa depan ketika para robot (surrogates) bertugas menggantikan peran dan pekerjaan setiap orang di dunia luar. Film ber-genre sci-fi ini menampilkan para robot –yang baik secara fisik mirip dengan tuannya maupun perwujudan karakter idaman pemilik robot– dikendalikan oleh pusat kontrol di rumah pemiliknya masing-masing. Dengan demikian, setiap manusia tidak perlu keluar rumah untuk melakukan pekerjaan mereka. Semuanya sudah ditangani oleh para robot pengganti.
Kisah Nuh dengan bahteranya yang termasyur itu kembali terkenang dalam film ‘2012’ besutan Rolland Emmerich ini. Memang dari segi alur cerita, terkesan tidak ada yang jauh berbeda dengan film-film sejenis yang menceritakan tentang bencana besar di Ibu Bumi, semisal The Day After Tomorrow (2004). Kendati pun demikian, tidak ada salahnya mengambil sedikit refleksi dari film ini.



cuap-cuap