“That is why it was called Babel – because there the LORD confused the language of the whole world. From there the LORD scattered them over the face of the whole earth.”
[Genesis 11:9]
Babilonia (Babylon atau Babel), kerapkali diasosiasikan dengan kata Yahudi untuk “kacau”. Dalam teks Genesis, kekacauan yang ditampilkan adalah tercerai-beraikannya bahasa seluruh dunia sehingga dengan kekurangan masing-masing dalam pemahaman bahasa, suatu bangsa tidak mempunyai pemahaman yang menyeluruh terhadap bangsa yang lain. Sementara itu, dalam film ini, jenis kekacauan yang dimunculkan terlihat dalam serentetan salah paham, yang melibatkan beberapa keluarga dari etnis-etnis yang berlainan: sebuah keluarga Maroko, sebuah keluarga Amerika, keluarga Mexico, dan juga Jepang. Sebuah insiden “kecil” yang diprakarsai dua orang bocah Maroko atas seorang turis wanita Amerika secara tidak sengaja telah memunculkan isu serangan teroris dan memicu ketegangan antar kedua negara tersebut. Di belahan dunia yang lain, seorang pengasuh wanita berkewarganegaraan Meksiko mengambil risiko besar ketika membawa dua anak asuhannya menyeberangi perbatasan A.S-Meksiko. Di Jepang, berawal dari penyelidikan senjata yang dipakai oleh si bocah Maroko, seorang gadis Jepang tuna rungu dibawa kepada suatu petualangan akan identitas diri. Semua itu secara tidak langsung menjadi satu rangkaian pengalaman keterpecahan yang mengambil bentuk yang hampir serupa dengan keterpecahan Babel dalam kitab Genesis. Secara ringkas, kekacauan yang terjadi antar tokoh dalam film ini bisa digambarkan sebagai kondisi “inability to communicate meaningfully with anyone around them”. Itulah yang secara nyata dialami para tokoh dalam “Babel”.
Interpretasi atas Genesis yang menggambarkan keterpecahan bahasa antar bangsa diterjemahkan kembali dengan apik dalam film ini di mana digambarkan dengan sangat jelas suatu keterpecahan “bahasa” dalam dunia. Menara Babel sebagai sumber keterpecahan umat manusia ribuan tahun yang lampau kembali diangkat sebagai simbol keterpecahan dalam dunia. Keterpecahan bahasa yang telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu ternyata masih melekat kuat dalam tiap individu manusia. Ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi, bahkan dengan orang-orang dalam lingkungan terdekat mereka, semakin melekatkan nuansa “kekacauan bahasa” yang ada ini. Dalam film, ketidakmampuan berkomunikasi ini bisa dilihat secara jelas dalam keterpecahan relasi di dalam suatu keluarga Maroko, Chieko dan ayahnya, Richard dan Susan, dan dalam intrik yang dialami oleh Amelia, sang pengasuh wanita asal Meksiko.
Keterpecahan yang ada juga ditunjukkan dan sekaligus diperparah dengan adanya beragam persepsi terhadap orang lain. Aneka persepsi ini ditimbulkan oleh aneka macam latar belakang yang berbeda: bahasa, etnis, budaya, adat, status sosial, pendidikan, dsb. Sebagai salah satu contoh, cobalah tengok dialog antara Tom dan Santiago dalam perjalanan menuju Meksiko:
Tom: “My mom said Mexico is dangerous.”
Santiago: [in Spanish] “Yes, it’s full of Mexicans.”
Gambaran akan persepsi juga diungkapkan oleh Chieko:
Chieko: [signing] They look at us like we’re monsters.
Chieko: [signing to ref] I’m deaf, not blind!
Aneka persepsi yang timbul akibat beragam latar belakang yang kurang bisa dijembatani secara sehat itulah yang menyebabkan simbol Babel terulang begitu kuat setiap saat. Ketidakmampuan manusia untuk berkomunikasi secara bermakna telah menyebabkan keterpecahan Babel yang terjadi di masa lampau berulang kembali dalam dunia sekarang, seolah-olah bagaikan suatu siklus keterpecahan yang tak kunjung putus.
Lantas, apakah tak ada contoh baik yang bisa dipetik? Setidaknya, dalam nuansa keterpecahan yang ada, masih ada satu bahasa yang dapat merekatkan dan menjembatani kekacauan bahasa Babel. Bahasa yang satu itu adalah semangat persaudaraan yang mendasarkan dirinya pada kasih dan pertobatan. Salah satu bentuk nyata “bahasa” jenis ini – yang mampu mengatasi bahasa-bahasa keterpecahan – adalah jalinan relasi Richard dan penerjemahnya. Sang penerjemah sungguh tulus membantu Richard ketika ia kesulitan merawat Susan, istrinya yang terluka dan panik akibat insiden “tembakan Yussef”. Perbedaan bahasa ibu, ras, agama, budaya hilang dengan sendirinya ketika kasih berbicara. “Pertobatan” Yussef juga menyiratkan hal yang sama. Demi kasihnya pada saudaranya, ia mampu mengalahkan rasa takut dan berani mengambil konsekuensi atas perbuatan yang tak sengaja ia lakukan. Dengan tegar ia mengaku: “I killed the American, I was the only one who shot at you. They did nothing… nothing. Kill me, but save my brother, he did nothing… nothing. Save my brother… he did nothing.” Ataupun dalam ungkapan hati terdalam Amelia yang dengan cucuran air mata mengakui cintanya yang mendalam kepada kedua anak Richard dan Susan (kendatipun pada akhirnya ia harus berpisah dengan kedua anak itu).
Dalam kebisuan dan keheningan bahasa terdalam inilah, yakni dalam kasih dan semangat persaudaraan; keterpecahan bahasa Babel telah dipulihkan pada keadaan semula di mana seluruh dunia memahami satu sama lain dalam bahasa yang sama…jauh sebelum keterpecahan bahasa itu terjadi.
“And the whole earth is of one language, and of one speech.”
[Genesis 11:1]



