Untuk mereka yang dengan berani berkomitmen suci
Life begins at forty…begitu kata beberapa orang. Mungkin, ada benarnya juga. Setelah aneka impian sedikit banyak mulai terealisasi, setelah mencapai kematangan sebagai seorang pribadi, dan setelah tanggungan hidup menjadi sedikit banyak berkurang; usia 40 adalah usia yang tepat untuk memulai “kehidupan yang sebenarnya”. Barangkali, itu pula yang mau digambarkan terjadi dalam sesosok Carrie Bradshaw, penulis yang tinggal dalam gegap gempita kota New York. Setelah hampir mendapatkan semua yang ia idam-idamkan pada usia muda – yang baginya adalah menyangkut 2 L: “Love and Label” – ia memutuskan memulai lembaran kehidupan barunya dengan suatu komitmen suci pernikahan. Pilihan itu adalah pilihan satu di antara sekian pilihan yang menentukan hidupnya. Maka, tibalah saat-saat penuh ketegangan ketika ia bersama sang kekasih harus menjalani serangkaian fase padang gurun menjelang pernikahan mereka. Pada akhirnya, karena suatu kesalahpahaman dan “kecelakaan” kecil bernuansa kebetulan yang sebenarnya tak perlu terjadi; pernikahan mereka harus “ditunda” untuk sementara waktu.
Kendatipun demikian, bolehlah kiranya disebut bahwa penundaan panjang itu merupakan suatu blessing in disguise. Berkat masa penantian yang lama, menyakitkan, penuh kekesalan itulah; beberapa orang menemukan pertobatan. Setidaknya bagi Carrie dan Miranda, mereka menemukan kembali arti persahabatan mereka lewat pemberian maaf secara tulus. Kedua sahabat itu secara perlahan juga diajak untuk menyadari kekurangan diri mereka, melepaskan aneka stigma yang melekat pada kekasih mereka, dan akhirnya bersedia kembali untuk berkomitmen suci dalam pernikahan. Proses menyakitkan inilah yang menyatukan kembali Carrie dan Mr. Big, serta menyelamatkan bahtera pernikahan antara Steve dan Miranda.
Niat suci Carrie untuk menandai lembaran hidup barunya dalam usia 40 tahun dengan komitmen pernikahan inilah yang bagi saya menjadi pilar utama film ini. Betapa terkesan indah ketika perjalanan memurnikan cinta akhirnya menghantarkan sepasang kekasih kepada tri prasetya janji: kesetiaan, pelayanan satu sama lain, dan penerimaan dalam suka dan duka. Ketiga hal itu dilandasi secara jelas dalam ikatan kasih. Ungkapan kasih inilah yang secara sederhana dibisikkan oleh John – Mr.Big – pada Carrie pada saat pernikahan sederhana mereka, mengutip beberapa bagian surat cinta Beethoven:
Ever thine…
Ever mine…
Ever ours…



