Prihatin rasanya melihat realitas yang terjadi terhadap anak-anak kecil dalam masa yang seharusnya menjadi masa indah mereka. Hari-hari ini, setidaknya ada dua hal yang seakan menjadi afirmasi bagiku bahwa anak telah kehilangan keselamatan dan perlindungan yang semestinya menjadi hak mereka.
Anak dan perjalanan
Salah satu potret yang umum ditemui di jalan adalah balita yang dibonceng menggunakan sepeda motor. Tak jarang para balita itu tidur dengan nyaman di tengah-tengah kepulan asap, tiupan angin sekencang motor melaju, dan tak jarang dalam terpaan air hujan yang membasahi mereka. Benarkah mereka sungguh merasa nyaman? Dalam kontras peristiwa yang terjadi dalam dekapan ibunda tercinta, bisa jadi akan sangat tipis batasan antara nyaman dari segi psikologis dan dari segi biologis. Akan tetapi, secara kasat mata satu hal telah pasti: Betapa dalam usia yang masih sangat hijau, mereka harus bertatapan dengan “ancaman” dari luar secara langsung, seakan tanpa perlindungan!
Kebiasaan membawa anak dalam perjalanan menggunakan motor ini membuatku teringat akan percakapan dua orang bule di Transjakarta beberapa pekan yang lalu. Bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, dua turis manca itu mengomentari “adat” orang Indonesia yang mereka pandang senang membawa anak bepergian bersama mereka. Dalam pandangan dua turis itu, tidak rasional untuk membawa anak (terlebih yang masih kecil) bepergian jauh menggunakan sepeda motor. Selain berisiko bagi sang anak, bepergian macam itu akan merepotkan orang tua.
Terlepas dari faktor kesulitan ekonomi yang mungkin membatasi pilihan para orang tua untuk membawa anak bersama mereka, terlihat bahwa anak kecil kurang mendapat perhatian yang cukup. Rupanya, kepentingan untuk bepergian telah mengalahkan kepentingan anak untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan yang sepantasnya.
Anak dan makanan
Belakangan ini, berita tentang peredaran dan penyitaan produk makanan palsu marak menghiasi aneka media. Kasus peredaran produk makanan yang mengandung melamin ini memang luar biasa. Beberapa merk yang akrab di telinga menjadi “korban” penyitaan karena dugaan adanya kandungan melamin dalam produk mereka. Bukannya tanpa korban, di Cina sendiri tercatat sekitar 53 ribu bayi sakit ginjal gara-gara mengkonsumsi susu campur melamin. Di Indonesia? Semoga tidak sampai terjadi demikian parah. Rasanya (dan seharusnya) tidak perlu menunggu sedemikian parah, bukan? Tentunya, akan menjadi sangat merugikan anak-anak apabila kasus macam ini dibiarkan berkelanjutan tanpa penanganan yang serius.
Terkait dengan beberapa jenis makanan yang diketahui mengandung melamin, ternyata beberapa produk sangat dekat dengan jenis makanan yang umum dikonsumsi anak. Susu jelas merupakan jenis minuman yang penting dikonsumsi oleh anak. Merk dagang biskuit dan wafer Oreo juga tidak kalah familiar di kalangan anak. Beberapa produk dari Nestle yang umumnya amat dekat dengan dunia anak juga “tercemar” oleh kandungan melamin ini. Semua ini hanya untuk menunjukkan bahwa di balik makanan anak – bahkan yang dinilai memiliki asupan gizi tinggi – tersembunyi bahaya yang sungguh potensial mengancam anak-anak.
Apa selanjutnya?
Kasus di atas hanyalah segelintir dari sekian kasus yang merugikan anak-anak. Masih ada beberapa kasus lain yang dapat disebutkan. Sebutlah kekerasan rumah tangga terhadap anak, kurangnya perhatian terhadap pendidikan dasar, eksploitasi anak dalam kerja, tayangan televisi yang begitu lugas menayangkan aneka macam acara seakan tanpa sensor, trafficking, dan seterusnya. Betapa memang kita semua perlu memberikan perhatian dan pendampingan yang lebih baik kepada anak! Bukankah kita akan sangat merasa tidak tega bila melihat senyum indah di bibir mereka tercerabut dan berganti dengan kemuraman belaka? Jangan sampai, oleh tindakan kita yang kurang memperhatikan kepentingan anak, tanpa sadar kita “membunuh” anak-anak kita sendiri.



