Kebebasan
Kebebasan merupakan salah satu tema yang banyak dibahas kaum eksistensialis. Kebebasan dan eksistensi, bagi Sartre dan Kierkeegard adalah tidak dapat dipisahkan. Menurut Kierkegaard, ada (to exist) adalah bersinonim dengan menjadi bebas. Seseorang tidak pertama-tama exist lalu menjadi bebas. Menjadi manusia berarti sudah bebas. Maka bagi filsafat, masalahnya adalah mengklarifikasi perbedaan implisit dalam istilah eksistensi dan kebebasan.
Bagi Sartre, kebebasan dinyatakan dengan tindakan menegasi en-soi sehingga kebebasan pour-soi yang rapuh dapat masuk dalam eksistensi. Nikolai Berdyaev berbalik dari argumen tradisional untuk membentuk kebebasan kehendak. Kesulitan argumen tradisional sendiri adalah mencoba mengobyektivir kebebasan, dengan memperlakukannya sebagai obyek yang dapat ditipu, diselidiki, dibuktikan, atau ditolak dari luar. Namun, bagi kaum eksistensialis (sebagaimana Kant), kebebasan tidak untuk dibuktikan, tetapi lebih sebagai suatu prinsip dasar tindakan. Kebebasan sudah ada di sana, sebagai kondisi eksistensi kita (termasuk pikiran kita).
Pembahasaan Berdyaev dalam kebebasan sendiri menjadi metafisis dan bahkan mistik. Berdyaev melihat kebebasan sebagai misteri. Untuk menekankan prioritas kebebasan, Berdyaev menyatakan bahwa kebebasan mengungguli ada. Secara ontologis, kebebasan adalah baseless. Tindakan kebebasan adalah primordial dan irasional. Kebebasan adalah meontic, ia adalah bukan apa-apa daripada sesuatu, suatu kemungkinan daripada aktualitas. Ia tidak dapat dipahami dengan pikiran, tetapi hanya dapat diketahui lewat serangkaian latihan kebebasan (exercise of freedom). Dengan menyodorkan konsep libertas major-libertas minor Agustinus, Berdyaev menyatakan dua arti kebebasan: kebebasan adalah baik kebebasan irasional primordial yang mendahului kebaikan dan kejahatan, dan yang menentukan pilihan di antara keduanya; maupun kebebasan yang final dan beralasan, kebebasan dalam kebaikan dan kebenaran – yang ingin mengatakan bahwa kebebasan dipahami sebagai titik awal dan cara, sekaligus akhir dan tujuan.
Kebebasan, seperti halnya kecemasan, dapat dihubungkan dengan dosa dan kejahatan karena kebebasan pada dirinya adalah fenomena yang ambigu. Kebebasan ada dalam dialektika di mana kebebasan dapat menjadi kebalikannya. Dalam dirinya, kebebasan memiliki benih penghancuran sehingga misteri asal usul kebebasan berjalan beriringan dengan misteri asal usul kejahatan. Walaupun kebebasan memiliki resiko dan tragedinya, Berdyaev dan para eksistensialis lain menekankan bahwa kebebasan adalah untuk dilindungi dan dikembangkan. Alasannya, jika kebenaran hampir identik dengan eksistensi, maka tidak ada kemanusiaan tanpa kebebasan. Bila demikian, meski kebebasan itu berbahaya; demi martabat manusia, kebebasan (termasuk di dalamnya kreativitas sebagai misteri kebebasan) tetap harus dikembangkan dan resiko yang ada mesti diambil.
Keputusan dan Pilihan
Tindakan dan kebebasan manusia semakin ditunjukkan lewat keputusan, pilihan, dan komitmen. Manusia adalah keputusannya. Seperti halnya manusia “membuat” dirinya dalam tindakan, demikian pula dalam keputusan, ia mencerminkan kedalaman dirinya.
Keputusan adalah penolakan diri. Memutuskan satu kemungkinan berarti meninggalkan kemungkinan lain. Keputusan membawa existen berhadapan dengan dirinya sendiri, dalam kondisi penuh kecemasan. Karena penuh resiko, tidak heran bila manusia benci membuat keputusan.
Bagi Kierkegaard, keseriusan suatu keputusan mesti disadari sebagai inti paling manusiawi dari eksistensi. Keputusan tidak sekali jadi dan mesti diteguhkan terus-menerus dalam situasi hidup yang terus berubah, walau keputusan yang baru akan sama mencemaskan dan seriusnya dengan keputusan awal. Karena keputusan telah dibuat untuk kita, maka yang diharapkan adalah kita menyesuaikan diri dan memperkuat keputusan itu. Hal yang pertama-tama mesti dilakukan adalah memilih, menguji kekuatan keputusan yang telah terkikis sehingga menjadi keputusan berkualitas yang adalah representasi tindakan personal.
Akhir kata, tindakan janganlah didefinisikan terlalu sempit sehingga pandangan kaum eksistensialis tentang aksi dapat digariskan kembali. Bahwa dalam tindakan-lah, termasuk di dalamnya adalah pikiran, kebebasan, dan keputusan; manusia adalah benar-benar dirinya seutuhnya.
(berdasarkan pembacaan buku Existentialism karya John Macquarrie, terbitan New York: Penguin Books, 1972)



