Kristianto Nugraha

I NOT STUPID TOO

In reflection on film on May 6, 2009 at 12:32 pm

Seringkali, orang tua berpikir telah memahami anaknya, berdasarkan alasan “I-give-birth-to-you-so-I-know“. Benarkah demikian? Seorang anak sangat mudah terluka pada usia belasan tahun, yang tanpa diragukan lagi adalah periode krusial perkembangan seorang anak. Satu langkah keliru yang dibuat orang tua kepada anaknya, kendatipun kecil, bisa jadi menjadi sesal besar di kemudian hari. Seberapa besarkah kesadaran orang tua akan hal ini?

I not stupid too adalah sebuah film Singapura yang bertutur pada tema seputar peliknya hubungan antara anak dan orang tua dewasa ini, yang ditimbulkan akibat kurangnya komunikasi. Berlatar belakang masyarakat modern di Singapura, film ini menyajikan suatu hiburan komedi sekaligus pertanyaan yang mendasar tentang relasi anak dan orang tua.

Kisah film ini diceritakan dari sudut pandang seorang bocah berusia 9 tahun, Jerry. Diceritakan, Jerry dan kakaknya, Tom menghadapi tuntutan yang kuat dari sekolah tempat mereka menimba ilmu sekaligus dari kedua orang tua mereka yang cukup berada namun kurang memahami anak-anak mereka.

Jerry dan Tom sama-sama menghadapi masalah dalam keluarga mereka. Sang anak merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dalam keluarga, sementara kedua orang tua merasa bahwa anak-anak telah terlampau sering mengecewakan mereka. Perpecahan yang terjadi dalam keluarga ini menjadi semacam kerinduan tersendiri bagi Jerry untuk melihat keluarganya sungguh menjadi family , suatu komunitas untuk berbagi hidup.

Dalam permasalahan internal keluarga inilah, baik Jerry maupun Tom mengalami kesulitan mereka masing-masing dalam pergaulan dan kegiatan mereka di sekolah. Kesulitan yang mereka alami bahkan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan kriminal ringan, mengutil. Kejahatan anak-anak inilah yang akhirnya tanpa sadar telah menjadi blessing in disguise bagi keseluruhan anggota keluarga.

Salah satu adegan yang menyentuh, yang menjadi “kunci pembuka” hati yang beku oleh karena miskomunikasi dapat ditunjukkan dengan adegan antara Jerry dan kedua orang tuanya.

(Klik di sini untuk melihat adegan tersebut: touching part)

Sentilan kisah lain mengedepankan persahabatan Tom dengan Cheng Cai, yang kerapkali sikapnya tidak dipahami oleh para guru. “Anak nakal” Cheng Cai ini juga memiliki kesulitan berkomunikasi dengan sang ayah dengan gaya mendidik anaknya yang keras. Cheng Cai tidak tahu bahwa sang ayah begitu mencintainya. Hanya saja, sang ayah kesulitan untuk mengekspresikan tanda cinta tersebut karena semenjak kecil tidak pernah mengalami cinta dalam keluarga. Di akhir kisah, semuanya barulah terungkap.

Generation gap yang terjadi dalam film ini menjadi semakin menarik untuk diikuti dalam kaitannya dengan masyarakat modern dewasa ini, di mana komunikasi antara anak dan orang tua menjadi suatu keprihatinan yang perlu dipecahkan bersama.

  1. Pak, barangkali punya CD or DVD nya, saya baru nonton di celestial akhir mei lalu, saya cari2 keliling Surabaya gak ada, katanya film lawas gituuu… padahal ini film terus terang baguuuuuusssssssssss bgt………

    barangkali bisa bantu pak…..

  2. Ortu yg bijak harus bisa memahami hak anak. Disamping sbg ortu juga hrs bisa sbg sahabat yg siap menerima curhat anak shg semua persoalan anak bisa segera terdeteksi. Salam kenal dari saya. Tulisan “Mendidik Anak Usia Dini itu Mudah ?” dan “Anakku jadi Presiden” bisa dibaca di blog saya http://skbjepara.wordpress.com. Mohon komentar. Trim’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.