Kristianto Nugraha

On the Internet: a short reflection based on Hubert Dreyfus

In opinion on May 10, 2009 at 12:12 am

Dalam refleksinya mengenai internet, Hubert Lederer Dreyfus -profesor filsafat di University of California, Berkeley – menggunakan kritik terhadap publik Kierkeegard sebagai suatu kerangka cara pandang awal.

Kierkegaard melihat ruang publik –sebagaimana diwakili oleh media– sebagai ruang yang menawarkan anonymity bebas risiko dan membangkitkan rasa ingin tahu yang malas, karena media cenderung untuk tidak menuntut tanggung jawab dan komitmen seseorang. Dalam ruang publik, ketika semuanya hanya diamati, dikritik, dan dikomentari tanpa akhir; lantas tidak ada yang namanya tindakan. Orang, dengan demikian hanya menjadi sekadar detached spectator yang kerjanya hanya mengamati saja. Inilah salah satu ciri pokok voyeurist modern.

Dalam cara pandang serupa, Dreyfus melihat bahwa ruang-ruang internet juga dapat menciptakan ruang eksistensi nihilistik karena internet adalah ruang simulasi bebas risiko. Mengapa disebut bebas risiko? Sebab:
1. setiap orang bebas mengirim info apa saja, ke mana dan siapa saja
2. setiap orang bisa mengirim pendapatnya sendiri, tanpa didukung keahlian dan keobyektifan. Ia cukup menjadi seorang komentator. Parahnya lagi, semua ini bisa dibuat secara anonim. Tanggung jawab dan komitmen tentu menjadi sangat minimal di sini.

Ekses yang dapat dimunculkan, terutama bila ‘kenyataan’ yang terjadi di dunia maya ini telah merambah dan mengganggu eksistensi manusia di dunia real, dapat bermacam-macam. Konsep tentang diri, kehidupan berkomunitas, hak atas privasi dan kebebasan individu, sampai gaya dan cara hidup dapat berbalik dan mengubah eksistensi manusia.

Salah satu bahaya laten internet adalah kemunduran tanggung jawab dan komitmen pada manusia. Ketika manusia didorong untuk terus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, tanpa filter dan asal comot sana sini –terutama dengan ekses negatif hyperlink di mana orang akan cenderung menghentikan pencariannya ketika menemukan entry yang lebih menarik– maka manusia akan menjadi manusia komentator, detached spectator. Manusia komentator ini menjadi pengumpul informasi yang kerjanya hanya mengamati saja. Dan kegiatan ini tanpa tanggung jawab, karena pengamatan itu bertujuan pada pencarian informasi pada dirinya (bukan demi suatu pengetahuan yang solid) dan tidak ada yang namanya tindakan. Inilah kemerosotan tanggung jawab dan komitmen ala voyeurist modern. Hal yang sama juga mengindikasikan adanya kemerosotan nilai-nilai etika dalam seorang individu detached spectator ini.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan dalam budaya baru ‘anonymous spectator takes no risk’ ini adalah: apakah sebagai seorang makhluk eksistensial, kita telah secara tidak sadar dikendalikan oleh cara berada internet ini? Apakah gejala-gejala kemerosotan sudah dirasakan terjadi pada kita? Semua ini adalah pertanyaan yang patut untuk direnungkan bersama.

Akhirnya, semoga dualisme hidup yang dijalani oleh manusia modern (dalam dunia real dan dunia maya) tidak menyebabkan makhluk eksistensial ini jatuh kepada suatu ketidakmampuan membedakan yang semu, yang remeh, dari yang penting dan substansial; yang pada gilirannya akan melemahkan kualitas seorang manusia sebagai pribadi eksistensial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.