“Never before has a date in history been so significant to so many cultures, so many religions, scientists, and governments. ’2012′ is an epic adventure about a global cataclysm that brings an end to the world and tells of the heroic struggle of the survivors.” (’2012′)
Kisah Nuh dengan bahteranya yang termasyur itu kembali terkenang dalam film ‘2012’ besutan Rolland Emmerich ini. Memang dari segi alur cerita, terkesan tidak ada yang jauh berbeda dengan film-film sejenis yang menceritakan tentang bencana besar di Ibu Bumi, semisal The Day After Tomorrow (2004). Kendati pun demikian, tidak ada salahnya mengambil sedikit refleksi dari film ini.
Kisah film dibuka dengan serangkaian adegan di sebuah lokasi bekas penambangan di India. Di sana, Dr. Satnam memberitahukan hasil penelitiannya terhadap sahabatnya dari Amerika, Dr. Adrian Helmsley tentang kenaikan suhu lempeng Bumi akibat ledakan besar di permukaan matahari. Dampak ledakan ini akan mengakibatkan patahan pada kerak Bumi. Sudah dapat diduga, gempa besar akan terjadi; kutub-kutub Bumi akan bergeser porosnya. Temuan Dr. Satnam itu akhirnya dilaporkan ke Gedung Putih, bahwa “kiamat” akan terjadi. Singkat cerita, pertemuan negara-negara anggota G8 yang dilaksanakan membahas rencana besar penyelamatan ras manusia dari kehancuran. China ditunjuk sebagai lokasi pembuatan “bendungan” raksasa, yang sebenarnya adalah dermaga untuk bahtera-bahtera raksasa “Nuh”.
Ada dua hal setidaknya yang menarik dari film ini –selain efek visualnya yang memang dahsyat, tentu saja. Pertama, betapa pun besar upaya manusia untuk menyiasati alam, pada akhirnya alam jualah yang akan menang. Selama ini, manusia cenderung berlaku angkuh terhadap alam. Dengan semena-mena, alam dieksploitasi dan dibiarkan rusak. Ketika tiba waktunya di mana alam “mengerang”, barulah manusia merasakan sesal karena bertindak tidak sepantasnya terhadap alam. Menarik untuk mencermati konteks film ini berhadapan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di seluruh dunia, isu-isu tentang global warming, sekaligus upaya counter dari segelintir manusia yang masih peduli terhadap alam. Dunia sendiri telah merasakan rintihan alam terhadap eksploitasi dirinya. Salah satu yang dapat disebut barangkali adalah betapa efek tsunami di kawasan Asia Tenggara telah meluluhlantakkan sebagian Bumi. Bayangkan saja seandainya tsunami itu melanda seluruh Bumi. Betapa dahsyat kerusakan yang akan dihasilkan. Sekiranya sulit membayangkan, adegan dalam ‘2012’ barangkali dapat membantu mengkontemplasikannya:
“Gempa dan tsunami setinggi ribuan meter melanda seluruh dunia. Air membanjiri seluruh daratan. Bumi bergetar hebat. Daratan hancur total karena seluruh daratan bergeser ribuan mil dari lokasi semula. Kutub utara dan selatan tidak lagi menempati posisinya semula. Bumi sungguh telah dijungkir balikkan.” Dalam salah satu adegan, bahkan USS John F. Kennedy terpental dari lautan dan menghantam Washington D.C. Sungguh dahsyat amukan alam ini. Manusia, dengan demikian sepatutnya harus mulai berpikir bahwa alam bisa bertindak sejauh itu bila manusia cenderung terus menerus melukai alam dan tidak lagi ramah terhadapnya. Harmoni harus ditumbuhkan dalam relasi manusia dan alam.
Kedua, pesan tentang kemanusiaan yang sungguh menyentuh. “Manusia tidak lagi human ketika dia berani mengorbankan nyawa sesamanya. Saat manusia berhenti memperjuangkan nasib sesamanya yang tengah menderita demi keselamatan diri sendiri, itulah saat dia kehilangan sisi kemanusiaannya.” Satu adegan yang begitu menyentuh adalah ketika Dr. Adrian mencoba meyakinkan para pemimpin dunia untuk mengijinkan orang-orang masuk ke dalam bahtera-bahtera raksasa “Nuh” –hanya yang membayar seat yang dapat masuk ke dalam bahtera; para pekerja yang membangun bahtera pun tidak dapat masuk. Di sinilah, sense of humanity yang akhirnya menang. Para pemimpin Negara minus PM Italia (memilih untuk berdoa di rumah dan menolak evakuasi) dan Presiden US (Presiden Thomas memilih tinggal bersama rakyat; “The captain is sinking with his ship”) tergerak oleh ungkapan kemanusiaan Dr. Adrian dan mengijinkan orang-orang itu masuk ke dalam bahtera, beberapa saat sebelum luapan air hasil tsunami menghujami bahtera-bahtera tersebut. Pesan kemanusiaan universal ini terasa cukup kuat menjelang akhir film. Ada refleksi bahwa seluruh umat manusia adalah saudara: seharusnya tak ada lagi sekat-sekat sosial budaya yang mengungkung manusia ketika sesamanya menderita. Kita wajib saling menolong tanpa memandang perbedaan karena memang kemanusiaan adalah hakikat manusia. Ketika ia berlaku egois demi keselamatan diri sendiri, saat itulah dia kehilangan kemanusiaannya. Ia tidak lagi human.
Buat yang penasaran lihat film 2012 we were warned,dan belum sempet ke bioskop atau belum ada duit buat nonton,silakan didonlot dari pada penasaran
http://razka96.wordpress.com/2009/11/14/film-2013-we-were-warned/
diman letak lokasi bendungan bahtera