Kristianto Nugraha

Archive for the ‘opinion’ Category

Kehidupan Tak Melulu Hitam dan Putih

In journal, opinion on April 12, 2012 at 7:11 am

Apresiasi Sastra atas Novel Nelle Harper Lee: To Kill a Mockingbird

 

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…

hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Harper Lee – To Kill a Mockingbird

Setiap manusia di dunia ini mempunyai bentuk fisik dan kebudayaan yang berbeda. Konsep ras didasarkan pada persamaan fisik setiap manusia, sedangkan konsep etnik didasarkan pada persamaan kebudayaan. Perbedaan bentuk fisik diakibatkan adaptasi manusia terhadap alam di mana mereka tinggal (James M. Henslin, 2006:212). Perbedaan itu adalah keragaman ras. Namun, sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa keragaman itu ternyata dapat pula disalahtafsirkan oleh sesama manusia.

Menurut Henslin, terdapat suatu pemikiran bahwa ras yang satu adalah superior terhadap ras yang lainnya. Pemikiran seperti inilah yang tertanam dalam benak orang Amerika –sebagai locus novel To Kill a Mockingbird– pada umumnya sejak 400 tahun yang lalu. Kemudian berangsur-angsur terbentuklah cara pandang pada generasi berikutnya bahwa orang kulit putih lebih baik daripada orang kulit hitam. Prasangka buruk yang tertanam ratusan tahun lalu ini lantas mengarahkan dan membenarkan orang untuk melakukan diskriminasi. Read the rest of this entry »

Memaknai Paskah ala Sobrino

In journal, opinion on April 7, 2012 at 9:54 am

Teologi Pembebasan dalam Refleksi Jon Sobrino

Pembahasan teologi seringkali tidak dapat dilepaskan dari pengalaman manusiawi, yakni pengalaman yang dijumpai dalam realitas sekitar dan hidup harian sebagai manusia. Dalam pemahaman ini, tidak dapat disangkal bahwa kerapkali terjadi salah paham mengenai teologi-teologi Pembebasan, yang berakar di Amerika Latin sejak awal abad 16. Seolah-olah teologi ini mendukung aksi sosial melalui tindakan kekerasan. Padahal, keprihatinan teologi ini sejalan dengan suatu impian akan terlaksananya cita-cita kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Teologi pembebasan adalah teologi yang berorientasi kerakyatan, teologi dari optik rakyat miskin dan tertindas.[1] Demikian bisa dikatakan bahwa teologi pembebasan adalah bentuk teologi (refleksi iman) yang didasarkan pada keprihatinan terhadap rakyat miskin dan tertindas. Dengan kacamata ini juga akan dipahami suatu kerangka berpikir teologis seorang Jon Sobrino yang didasarkan pada pengalaman hidup bersama kaum miskin di San Salvador.

SIAPAKAH SOBRINO?

Jon Sobrino adalah seorang teolog Yesuit. Ia lahir di Barcelona pada 1938. Ia masuk Ordo Serikat Yesus pada umur 18 tahun dan pada 1958 diutus pergi ke El Salvador. Dalam masa perutusan itu, ia belajar teknikdi Universitas St.Louis, Amerika Serikat dan lantas teologi di Frankfurt. Sekembalinya ke El Salvador, ia mengajar di sebuah universitas Yesuit: University of Central America (UCA). Read the rest of this entry »

Pembelajaran (learning) sebagai Upaya ‘Transendensi’: Perspektif Konfusian

In journal, opinion on March 26, 2012 at 8:45 am

“He who learns but does not think is lost; he who thinks but does not learn is in danger.”

(Lun Yu, 2:15) [1]

  1. Pengantar

Esensi Dasein terletak dalam eksistensinya, begitu pandangan Martin Heidegger (1889-1976). Hal ini menunjukkan bahwa selain manusia terbatas, manusia memiliki kemampuan transendensi. Kemampuan manusia untuk selalu mengatasi kemanusiaannya ini merupakan dasar filosofis dari penciptaan kebudayaan dan peradaban (Sastrapratedja 2010). Kemampuan transendensi tersebut terwujud dalam tindakan manusia mengatasi dunianya. Dengan membudaya dan membangun dunia, berarti manusia mengatasi dunianya.

Para filsuf Barat semacam Picco della Mirandola, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre dan Theodor Adorno melihat adanya kecenderungan dalam diri manusia untuk mengatasi dirinya atau kemanusiaannya. Kecenderungan ini ada karena manusia memiliki kebebasan. Gagasan serupa juga dikemukakan oleh seorang filsuf Perancis, Dominique Janicaud (meninggal 2002) yang mengajukan bahwa ‘mengatasi’ atau ‘melampaui’ adalah sifat khas manusia yang memiliki kebebasan. Dengan sifat khas tersebut, manusia hendak mengatasi kondisi kemanusiaannya. Salah satu upaya manusia untuk mengatasi kondisi kemanusiaannya adalah melalui edukasi/pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan adalah sebuah upaya transendensi manusia. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.