Kristianto Nugraha

Archive for the ‘reflection on film’ Category

Surrogates: How do you save humanity when the only thing that’s real is you?

In reflection on film on December 8, 2009 at 4:13 pm

Film arahan Jonathan Mostow ini mengisahkan suatu periode di masa depan ketika para robot (surrogates) bertugas menggantikan peran dan pekerjaan setiap orang di dunia luar. Film ber-genre sci-fi ini menampilkan para robot –yang baik secara fisik mirip dengan tuannya maupun perwujudan karakter idaman pemilik robot– dikendalikan oleh pusat kontrol di rumah pemiliknya masing-masing. Dengan demikian, setiap manusia tidak perlu keluar rumah untuk melakukan pekerjaan mereka. Semuanya sudah ditangani oleh para robot pengganti.

Dalam film ini, Bruce Willis berperan sebagai seorang agen FBI yang harus kembali bertugas ke dunia luar setalah bertahun-tahun berdiam diri di rumah. Bruce memutuskan melakukannya tanpa robot pengganti karena ia mencium konspirasi dalam pemakaian para robot pengganti yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Menarik untuk mengamati secara lebih mendalam perihal film ini. Pertanyaan “Human perfection. What could go wrong?” adalah salah satu yang bisa dikemukakan. Kesempurnaan nalar manusia telah menghasilkan teknologi luar biasa dalam rupa para robot pengganti. Mungkinkah kesempurnaan itu dapat keliru?  Read the rest of this entry »

2012

In reflection on film on November 14, 2009 at 2:30 am

Never before has a date in history been so significant to so many cultures, so many religions, scientists, and governments. ’2012′ is an epic adventure about a global cataclysm that brings an end to the world and tells of the heroic struggle of the survivors.” (’2012′)

Kisah Nuh dengan bahteranya yang termasyur itu kembali terkenang dalam film ‘2012’ besutan Rolland Emmerich ini. Memang dari segi alur cerita, terkesan tidak ada yang jauh berbeda dengan film-film sejenis yang menceritakan tentang bencana besar di Ibu Bumi, semisal The Day After Tomorrow (2004). Kendati pun demikian, tidak ada salahnya mengambil sedikit refleksi dari film ini.

Kisah film dibuka dengan serangkaian adegan di sebuah lokasi bekas penambangan di India. Di sana, Dr. Satnam memberitahukan hasil penelitiannya terhadap sahabatnya dari Amerika, Dr. Adrian Helmsley tentang kenaikan suhu lempeng Bumi akibat ledakan besar di permukaan matahari. Dampak ledakan ini akan mengakibatkan patahan pada kerak Bumi. Sudah dapat diduga, gempa besar akan terjadi; kutub-kutub Bumi akan bergeser porosnya.  Temuan Dr. Satnam itu akhirnya dilaporkan ke Gedung Putih, bahwa “kiamat” akan terjadi. Read the rest of this entry »

I NOT STUPID TOO

In reflection on film on May 6, 2009 at 12:32 pm

Seringkali, orang tua berpikir telah memahami anaknya, berdasarkan alasan “I-give-birth-to-you-so-I-know“. Benarkah demikian? Seorang anak sangat mudah terluka pada usia belasan tahun, yang tanpa diragukan lagi adalah periode krusial perkembangan seorang anak. Satu langkah keliru yang dibuat orang tua kepada anaknya, kendatipun kecil, bisa jadi menjadi sesal besar di kemudian hari. Seberapa besarkah kesadaran orang tua akan hal ini?

I not stupid too adalah sebuah film Singapura yang bertutur pada tema seputar peliknya hubungan antara anak dan orang tua dewasa ini, yang ditimbulkan akibat kurangnya komunikasi. Berlatar belakang masyarakat modern di Singapura, film ini menyajikan suatu hiburan komedi sekaligus pertanyaan yang mendasar tentang relasi anak dan orang tua.

Kisah film ini diceritakan dari sudut pandang seorang bocah berusia 9 tahun, Jerry. Diceritakan, Jerry dan kakaknya, Tom menghadapi tuntutan yang kuat dari sekolah tempat mereka menimba ilmu sekaligus dari kedua orang tua mereka yang cukup berada namun kurang memahami anak-anak mereka.

Jerry dan Tom sama-sama menghadapi masalah dalam keluarga mereka. Sang anak merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup dalam keluarga, sementara kedua orang tua merasa bahwa anak-anak telah terlampau sering mengecewakan mereka. Perpecahan yang terjadi dalam keluarga ini menjadi semacam kerinduan tersendiri bagi Jerry untuk melihat keluarganya sungguh menjadi family , suatu komunitas untuk berbagi hidup.

Dalam permasalahan internal keluarga inilah, baik Jerry maupun Tom mengalami kesulitan mereka masing-masing dalam pergaulan dan kegiatan mereka di sekolah. Kesulitan yang mereka alami bahkan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan kriminal ringan, mengutil. Kejahatan anak-anak inilah yang akhirnya tanpa sadar telah menjadi blessing in disguise bagi keseluruhan anggota keluarga.

Salah satu adegan yang menyentuh, yang menjadi “kunci pembuka” hati yang beku oleh karena miskomunikasi dapat ditunjukkan dengan adegan antara Jerry dan kedua orang tuanya.

(Klik di sini untuk melihat adegan tersebut: touching part)

Sentilan kisah lain mengedepankan persahabatan Tom dengan Cheng Cai, yang kerapkali sikapnya tidak dipahami oleh para guru. “Anak nakal” Cheng Cai ini juga memiliki kesulitan berkomunikasi dengan sang ayah dengan gaya mendidik anaknya yang keras. Cheng Cai tidak tahu bahwa sang ayah begitu mencintainya. Hanya saja, sang ayah kesulitan untuk mengekspresikan tanda cinta tersebut karena semenjak kecil tidak pernah mengalami cinta dalam keluarga. Di akhir kisah, semuanya barulah terungkap.

Generation gap yang terjadi dalam film ini menjadi semakin menarik untuk diikuti dalam kaitannya dengan masyarakat modern dewasa ini, di mana komunikasi antara anak dan orang tua menjadi suatu keprihatinan yang perlu dipecahkan bersama.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.