“Jazz is surprising, unpredictable, and full of improvisation.” Maybe, this statement is the simpliest way to review the characteristics of jazz and a way to differ jazz from other “style of music”. Jazz is something different. Where are the differences? First, we can see them from their performers themselves. Because the power and the main characteristic of jazz are located in its improvisation, we can see that performers of jazz improvise within the conventions of their chosen style. Typically, the improvisation is accompanied by the repeated chord progression of a popular song or an original composition. Although exceptions occur in some styles, most jazz is based on the principle that an infinite number of melodies can fit the chord progressions of any song. This style is totally different with the performers of blues, for instance, whom make no improvisation at all. Then, we can also see the differences from the use of written scores. Written scores, if present, are often used merely as guides, providing structure within which improvisation occurs. Of course, it is different from its of classical music. Jazz musicians do not memorize the scores, but they have to be creating or trying to, anticipating each other, transforming their feelings into mucic, and taking chances every second. Jazz is characterized by syncopated rhythms and improvisation. That is why Whitney Balliett, jazz critic for The New Yorker magazine, has called jazz as “the sound of surprises.” Really, jazz is full of element of surprises!
Prihatin rasanya melihat realitas yang terjadi terhadap anak-anak kecil dalam masa yang seharusnya menjadi masa indah mereka. Hari-hari ini, setidaknya ada dua hal yang seakan menjadi afirmasi bagiku bahwa anak telah kehilangan keselamatan dan perlindungan yang semestinya menjadi hak mereka.
Anak dan perjalanan
Salah satu potret yang umum ditemui di jalan adalah balita yang dibonceng menggunakan sepeda motor. Tak jarang para balita itu tidur dengan nyaman di tengah-tengah kepulan asap, tiupan angin sekencang motor melaju, dan tak jarang dalam terpaan air hujan yang membasahi mereka. Benarkah mereka sungguh merasa nyaman? Dalam kontras peristiwa yang terjadi dalam dekapan ibunda tercinta, bisa jadi akan sangat tipis batasan antara nyaman dari segi psikologis dan dari segi biologis. Akan tetapi, secara kasat mata satu hal telah pasti: Betapa dalam usia yang masih sangat hijau, mereka harus bertatapan dengan “ancaman” dari luar secara langsung, seakan tanpa perlindungan!
Kebiasaan membawa anak dalam perjalanan menggunakan motor ini membuatku teringat akan percakapan dua orang bule di Transjakarta beberapa pekan yang lalu. Bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, dua turis manca itu mengomentari “adat” orang Indonesia yang mereka pandang senang membawa anak bepergian bersama mereka. Dalam pandangan dua turis itu, tidak rasional untuk membawa anak (terlebih yang masih kecil) bepergian jauh menggunakan sepeda motor. Selain berisiko bagi sang anak, bepergian macam itu akan merepotkan orang tua.
Terlepas dari faktor kesulitan ekonomi yang mungkin membatasi pilihan para orang tua untuk membawa anak bersama mereka, terlihat bahwa anak kecil kurang mendapat perhatian yang cukup. Rupanya, kepentingan untuk bepergian telah mengalahkan kepentingan anak untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan yang sepantasnya.
Anak dan makanan
Belakangan ini, berita tentang peredaran dan penyitaan produk makanan palsu marak menghiasi aneka media. Kasus peredaran produk makanan yang mengandung melamin ini memang luar biasa. Beberapa merk yang akrab di telinga menjadi “korban” penyitaan karena dugaan adanya kandungan melamin dalam produk mereka. Bukannya tanpa korban, di Cina sendiri tercatat sekitar 53 ribu bayi sakit ginjal gara-gara mengkonsumsi susu campur melamin. Di Indonesia? Semoga tidak sampai terjadi demikian parah. Rasanya (dan seharusnya) tidak perlu menunggu sedemikian parah, bukan? Tentunya, akan menjadi sangat merugikan anak-anak apabila kasus macam ini dibiarkan berkelanjutan tanpa penanganan yang serius.
Terkait dengan beberapa jenis makanan yang diketahui mengandung melamin, ternyata beberapa produk sangat dekat dengan jenis makanan yang umum dikonsumsi anak. Susu jelas merupakan jenis minuman yang penting dikonsumsi oleh anak. Merk dagang biskuit dan wafer Oreo juga tidak kalah familiar di kalangan anak. Beberapa produk dari Nestle yang umumnya amat dekat dengan dunia anak juga “tercemar” oleh kandungan melamin ini. Semua ini hanya untuk menunjukkan bahwa di balik makanan anak – bahkan yang dinilai memiliki asupan gizi tinggi – tersembunyi bahaya yang sungguh potensial mengancam anak-anak.
Apa selanjutnya?
Kasus di atas hanyalah segelintir dari sekian kasus yang merugikan anak-anak. Masih ada beberapa kasus lain yang dapat disebutkan. Sebutlah kekerasan rumah tangga terhadap anak, kurangnya perhatian terhadap pendidikan dasar, eksploitasi anak dalam kerja, tayangan televisi yang begitu lugas menayangkan aneka macam acara seakan tanpa sensor, trafficking, dan seterusnya. Betapa memang kita semua perlu memberikan perhatian dan pendampingan yang lebih baik kepada anak! Bukankah kita akan sangat merasa tidak tega bila melihat senyum indah di bibir mereka tercerabut dan berganti dengan kemuraman belaka? Jangan sampai, oleh tindakan kita yang kurang memperhatikan kepentingan anak, tanpa sadar kita “membunuh” anak-anak kita sendiri.
Posted in opinion | Tagged Anak, balita dibonceng, makanan palsu, prihatin terhadap anak | Leave a Comment »
It’s kind of a long distance relationship…
Sebuah prasasti didirikan untuk suatu tujuan, yakni untuk mengingatkan orang akan sesuatu. Film ini pun, dalam aspek-aspek tertentu, menyodorkan suatu kenyataan tersebut. Film ini menghadapkan orang untuk mau belajar percaya bahwa dua insan tidak perlu bertatap muka terlebih dahulu untuk mengalami jatuh cinta. Pengalaman Kate Forster dan Alex Wyler membuktikannya.
Pernyataan Kate Forster, seorang dokter di Rumah Sakit Chicago, pada awal tulisan ini menyiratkan suatu relasi yang aneh, tidak logis, namun sungguh dialami. Pengalaman serupa dialami oleh Alex Wyler, seorang arsitek. Dia mengalami suatu relasi yang aneh dengan si dokter. Mereka berdua terpisah secara matra ruang dan waktu, namun disatukan oleh kekuatan yang tidak mereka mengerti. Apakah kotak surat rumah danau itu penyebab utama semua ini? Ataukah panah Cupid yang menembus ruang dan waktu, yang membuat mereka perlahan-lahan merasa jatuh cinta satu sama lain kendati belum pernah bersua?
Pertanyaan di atas tidak perlu dijawab. Hanya saja, film ini memang seakan sebagai suatu prasasti, pengingat bahwa manusia bisa jatuh cinta kendati tidak pernah ketemu sebelumnya. Bagaimana hal itu dijelaskan secara rasional? Well, cinta memang bukan hal logis yang dapat dijelaskan secara teoritis. Cinta, sekali lagi memang tidak logis.
Posted in reflection on film | Tagged long distance relationship, The lake house | Leave a Comment »
“Alangkah membahagiakannya bila dapat mati di tempat di mana seluruh hati dan diri diberikan.”
Setidaknya, pikiran itulah yang muncul dalam anganku ketika melihat sosok George Hogg. Sosok Hogg yang adalah seorang jurnalis berkewarganegaraan Inggris sungguh mempesona. Sebagai orang asing, bule ini terlibat dalam perjuangan sebuah bangsa di Asia. Bukan hanya terlibat, ia sungguh masuk dan melebur menjadi satu identitas dengan sebuah bangsa di Asia tersebut.
Teladan Hogg untuk memberikan hati dan diri kepada pelayanannya menjadi inspirasi bagiku pribadi untuk terus maju dalam mencari passion (sesuatu di mana seseorang bisa total memberikan seluruh milik, hidup, dan bahkan seluruh diri)ku.
Memang, akan sangat membahagiakan bila kelak aku mati untuk sesuatu yang kepadanya seluruh hati dan diriku kuberikan. Bila itu yang terjadi, kematian bukanlah hal yang menakutkan lagi.
Posted in reflection on film | Tagged Escape from Huang Shi, mati, pemberian diri dan hati, The Children of Huang Shi | 1 Comment »





